Rabu, 14 Januari 2015

Spesial Pergantain Tahun (2014 - 2015 )

pembagian tas
Seperti biasanya kami mengobrol santai disebuah tempat yang direkomendasikan oleh mba Olip disebuah café bernuansa santai. Bisa langsung tertebak obrolan kami pasti membahas banyak hal yang akhirnya disepakati bersama. Merayakan tahun baru dengan hal yang “bermanfaat”.

Setelah persiapan dan barang-barang sudah lengkap termasuk personil diantaranya aku, mas Jaja, mba Olip, mba Bela, mas Apris dan pak sopir kami semua langsung meluncur menggunakan mobil carteran. Kami semua menikmati perjalanan yang kemalaman dengan bercanda dan mengobrol kesana kemari. Tidak lupa juga mengisi perut yang keroncongan dengan makan di dekat alun-alun. Namun itu belum setengah perjalanan, justru disinilah perjalanan sebenarnya akan dimulai.
jalanan aduhaiii (siang hari)
Kabupaten Banjarnegara kecamatan Punggelan desa Slimpet Dusun Tlaga, sebuah dusun kecil yang berada diantara bukit-bukit rawan longsor menjadi tujuan kami. Dengan tujuan membagikan perlengkapan sekolah untuk anak-anak pengungsi disana yang rumahnya menjadi “zona merah” akibat rawan bencana. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan aspal kecil kami berharap inilah kunci akhir dan kunci awal untuk kembali mengasah kepedulian kami semua.

Selama perjalanan kami semua disuguhkan siluet melengkung bukit-bukit yang dihiasi kerlip-kerlip lampu, menambah manis indahnya malam. Namun segalanya langsung berubah, ketika jalanan aspal hancur berbatu mirip sungai kering mulai kami lewati. Gelapnya kebun salak dan belokan serta tanjakan menambah seru perjalanan yang entah kapan akan berakhir.
Setelah tanjakan panjang yang membuat kami semua harus turun karena mobil tidak kuat menanjak kami semua berfikir. Pak sopir mulai gelisah karena bensin semakin menipis kami juga gelisah namun masih saja bisa bercanda ini itu. niat untuk menghubungi teman pun kandas seketika, ketika semua ponsel kami nihil sinyal ( wakwak). Sambil berfikir kami berjalan menyusuri rumah-rumah warga yang sudah lengang. Sekelompok bapak-bapak yang tengah ronda akhirnya membuat kami lega. Tidak jauh dari tempat mereka berkumpul ternyata ada warung kecil penjual bensin. Alhamdulillah, kami terselamatkan juga.

Lanjut… berbekal info seorang bapak kami mantap melanjutkan perjalanan. Jalanan halus yang hanya muat satu mobil dengan medan menanjak dan berkelok sementara membuat kami bungkam. Namun akhirnya, semua proses yang menegangkan luluh ketika akhirnya kami semua sampai di posko pengungsian. Langsung saja, kami mencari teman kami yang ternyata berada di pengungsian lain. setelah menunggu sambil menonton film yang diputar oleh teman-teman relawan, akhirnya yang ditunggu datang juga.
ade-ade kecil berbaris
Mengobrol ini itu kami semua sempat kaget, karena ternyata kami salah posko. Posko yang seharusnya dituju berada di bawah. Yasudahlah, kami akhirnya bertahan dan menghabiskan dengan mengobrol banyak hal (lagi-lagi). Setelah resmi masuk ke tahun 2015 kami justru memilih untuk tidur mengumpulkan energy untuk esok hari.

Bangun awal yang sangat jarang, hanya dengan cuci muka dan gosok gigi kami ikut serta senam pagi dengan seluruh anak-anak pengungsi. Setelah acara senam selesai, barulah giliran kami masuk untuk membagikan barang bawaan titipan dari para donator. Antusias anak-anak dan semua pengungsi begitu membuat kami bersemangat. Kami menyuruh anak-anak berbaris sesuai tingakatan sekolah mereka, dari SMA, SMP, SD dan TK. Sedangkan anak-anak yang belum sekolah dan PAUD kami bariskan bersama secara terpisah. Barulah acara pembagian donasi yang dipimpin sesepuh desa dimulai dengan khidmat. Beberapa anak-anak maju ke depan mengambil hak mereka dengan wajah gembira dan senyum merekah. Keributan kecil sempat terjadi, ketika anak-anak kecil mulai ribut dan sebagian menangis karena merasa iri mereka belum diberi apapun. Namanya juga anak kecil, akhirnya tangis mereka mereda ketika jajanan kecil sudah ditangan, mereka berbaris kembali. Belum usai sampai disitu, setelah semua dapat secara serempak mereka berdoa bersama-sama. Doa karena diberi sesuatu orang lain dan juga mengucapkan terimakasih. Rasa haru belum juga berakhir, ketika akhirnya mereka semua bersalaman bergantian. Dengan wajah senang dan polos, mereka mengucapkan terimakasih dan mencium tangan kami semua. Ya…kami hanya bisa berdoa dan berharap semoga kelak mereka bisa menjadi penerus bangsa yang baik. Aaammmiiinnn…
lokasi pasca longsor desa Jemblug

Setelah selesai, kami langsung kembali dan bertambah satu personil yaitu mas Indra. Sebagai penujuk arah mas Indra duduk di depan sendiri bersama pak sopir. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk ke Karang Kobar mengambil barang-barang milik mas Indra. Kami sempat melewati lokasi kejadian longsor di desa Jemblug yang sekarang aksesnya sudah dibuka. Perjalanan pulang akhirnya dihabsikan dengan tidur, hanya pak sopir, mba Bela dan mas Indra yang masih siaga. Setelah terlelap lama aku terbangun karena kaget mobil terus berguncang. Aku liat teman-temanku juga semua terlelap termasuk mas Indra. Namun rasa kaget langsung menyadarkanku yang belum sempat mengucek mata. Mobil kembali kearah Punggelan. Langsung saja, aku bertanya dengan mba Bela ternyata memang dari tadi kami semua tersesat (wahahaha akibat tidur semua). Secara bergilir para personil yang tidur dibangunankan dan langsung berekspresi kaget. Setelah sedikit panic selama beberapa menit, akhirnya kami semua bisa tenang melanjutkan perjalanan dengan arah yang benar.
Aku merasa bersyukur dan tidak rugi sama sekali, menghabiskan waktu pergantian tahun disebuah desa yang masih minim fasilitasnya. Namun keramahan dan ketegaran mereka hidup di tempat yang rawan dan jauh dari keramainlah yang membuat mereka istimewa. Semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya dan semoga alam yang mengelilingi mereka selau terjaga kelestariannya.

-          31 Desember 2014-1 Januari 2015             - 
suasana siang hari masih berkabut

senam pagi bersama





Tidak ada komentar:

Posting Komentar