| pembagian tas |
Seperti biasanya kami mengobrol santai disebuah tempat yang
direkomendasikan oleh mba Olip disebuah café bernuansa santai. Bisa langsung
tertebak obrolan kami pasti membahas banyak hal yang akhirnya disepakati
bersama. Merayakan tahun baru dengan hal yang “bermanfaat”.
Setelah persiapan dan barang-barang sudah lengkap termasuk
personil diantaranya aku, mas Jaja, mba Olip, mba Bela, mas Apris dan pak sopir
kami semua langsung meluncur menggunakan mobil carteran. Kami semua menikmati
perjalanan yang kemalaman dengan bercanda dan mengobrol kesana kemari. Tidak
lupa juga mengisi perut yang keroncongan dengan makan di dekat alun-alun. Namun
itu belum setengah perjalanan, justru disinilah perjalanan sebenarnya akan
dimulai.
| jalanan aduhaiii (siang hari) |
Kabupaten Banjarnegara kecamatan Punggelan desa Slimpet
Dusun Tlaga, sebuah dusun kecil yang berada diantara bukit-bukit rawan longsor
menjadi tujuan kami. Dengan tujuan membagikan perlengkapan sekolah untuk
anak-anak pengungsi disana yang rumahnya menjadi “zona merah” akibat rawan bencana.
Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan aspal kecil kami berharap inilah kunci
akhir dan kunci awal untuk kembali mengasah kepedulian kami semua.
Selama perjalanan kami semua disuguhkan siluet melengkung
bukit-bukit yang dihiasi kerlip-kerlip lampu, menambah manis indahnya malam. Namun
segalanya langsung berubah, ketika jalanan aspal hancur berbatu mirip sungai
kering mulai kami lewati. Gelapnya kebun salak dan belokan serta tanjakan
menambah seru perjalanan yang entah kapan akan berakhir.
Setelah tanjakan panjang yang membuat kami semua harus turun
karena mobil tidak kuat menanjak kami semua berfikir. Pak sopir mulai gelisah
karena bensin semakin menipis kami juga gelisah namun masih saja bisa bercanda
ini itu. niat untuk menghubungi teman pun kandas seketika, ketika semua ponsel
kami nihil sinyal ( wakwak). Sambil berfikir kami berjalan menyusuri
rumah-rumah warga yang sudah lengang. Sekelompok bapak-bapak yang tengah ronda
akhirnya membuat kami lega. Tidak jauh dari tempat mereka berkumpul ternyata
ada warung kecil penjual bensin. Alhamdulillah, kami terselamatkan juga.
Lanjut… berbekal info seorang bapak kami mantap melanjutkan
perjalanan. Jalanan halus yang hanya muat satu mobil dengan medan menanjak dan
berkelok sementara membuat kami bungkam. Namun akhirnya, semua proses yang
menegangkan luluh ketika akhirnya kami semua sampai di posko pengungsian.
Langsung saja, kami mencari teman kami yang ternyata berada di pengungsian
lain. setelah menunggu sambil menonton film yang diputar oleh teman-teman
relawan, akhirnya yang ditunggu datang juga.
| ade-ade kecil berbaris |
Mengobrol ini itu kami semua sempat kaget, karena ternyata
kami salah posko. Posko yang seharusnya dituju berada di bawah. Yasudahlah,
kami akhirnya bertahan dan menghabiskan dengan mengobrol banyak hal
(lagi-lagi). Setelah resmi masuk ke tahun 2015 kami justru memilih untuk tidur
mengumpulkan energy untuk esok hari.
Bangun awal yang sangat jarang, hanya dengan cuci muka dan
gosok gigi kami ikut serta senam pagi dengan seluruh anak-anak pengungsi.
Setelah acara senam selesai, barulah giliran kami masuk untuk membagikan barang
bawaan titipan dari para donator. Antusias anak-anak dan semua pengungsi begitu
membuat kami bersemangat. Kami menyuruh anak-anak berbaris sesuai tingakatan
sekolah mereka, dari SMA, SMP, SD dan TK. Sedangkan anak-anak yang belum
sekolah dan PAUD kami bariskan bersama secara terpisah. Barulah acara pembagian
donasi yang dipimpin sesepuh desa dimulai dengan khidmat. Beberapa anak-anak
maju ke depan mengambil hak mereka dengan wajah gembira dan senyum merekah.
Keributan kecil sempat terjadi, ketika anak-anak kecil mulai ribut dan sebagian
menangis karena merasa iri mereka belum diberi apapun. Namanya juga anak kecil,
akhirnya tangis mereka mereda ketika jajanan kecil sudah ditangan, mereka
berbaris kembali. Belum usai sampai disitu, setelah semua dapat secara serempak
mereka berdoa bersama-sama. Doa karena diberi sesuatu orang lain dan juga
mengucapkan terimakasih. Rasa haru belum juga berakhir, ketika akhirnya mereka
semua bersalaman bergantian. Dengan wajah senang dan polos, mereka mengucapkan
terimakasih dan mencium tangan kami semua. Ya…kami hanya bisa berdoa dan
berharap semoga kelak mereka bisa menjadi penerus bangsa yang baik.
Aaammmiiinnn…
| lokasi pasca longsor desa Jemblug |
Setelah selesai, kami langsung kembali dan bertambah satu
personil yaitu mas Indra. Sebagai penujuk arah mas Indra duduk di depan sendiri
bersama pak sopir. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk ke Karang Kobar
mengambil barang-barang milik mas Indra. Kami sempat melewati lokasi kejadian
longsor di desa Jemblug yang sekarang aksesnya sudah dibuka. Perjalanan pulang
akhirnya dihabsikan dengan tidur, hanya pak sopir, mba Bela dan mas Indra yang
masih siaga. Setelah terlelap lama aku terbangun karena kaget mobil terus
berguncang. Aku liat teman-temanku juga semua terlelap termasuk mas Indra.
Namun rasa kaget langsung menyadarkanku yang belum sempat mengucek mata. Mobil
kembali kearah Punggelan. Langsung saja, aku bertanya dengan mba Bela ternyata
memang dari tadi kami semua tersesat (wahahaha akibat tidur semua). Secara
bergilir para personil yang tidur dibangunankan dan langsung berekspresi kaget.
Setelah sedikit panic selama beberapa menit, akhirnya kami semua bisa tenang
melanjutkan perjalanan dengan arah yang benar.
Aku merasa bersyukur dan tidak rugi sama sekali,
menghabiskan waktu pergantian tahun disebuah desa yang masih minim
fasilitasnya. Namun keramahan dan ketegaran mereka hidup di tempat yang rawan
dan jauh dari keramainlah yang membuat mereka istimewa. Semoga mereka selalu
dalam lindungan-Nya dan semoga alam yang mengelilingi mereka selau terjaga
kelestariannya.
-
31 Desember 2014-1 Januari 2015 -
| suasana siang hari masih berkabut |
| senam pagi bersama |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar